0
[postlink]https://sumaterafarm.blogspot.com/2009/04/pakan-kambing.html[/postlink]

JENIS PAKAN

1) Hijauan Segar
Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternakdalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun yang tidak (disengut langsung oleh ternak). Hijauan segar umumnya terdiri atas daun-daunan yang berasal dari rumput-rumputan, tanaman bijibijian/jenis kacang-kacangan.

Rumput-rumputan merupakan hijauan segar yang sangat disukai ternak, mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi, terutama di daerah tropis meskipun sering dipotong/disengut langsung oleh ternak sehingga menguntungkan para peternak/pengelola ternak. Hijauan banyak mengandung karbohidrat dalam bentuk gula sederhana, pati dan fruktosa yang sangat berperan dalam menghasilkan energi.

a. Rumput-rumputan
Rumput Gajah (Pennisetum purpureum), rumput Benggala (Penicum maximum), rumput Setaria (Setaria sphacelata), rumput Brachiaria(Brachiaria decumbens), rumput Mexico (Euchlena mexicana) dan rumput lapangan yang tumbuh secara liar.
b. Kacang-kacangan
Lamtoro (Leucaena leucocephala), stylo (Sty-losantes guyanensis), centro (Centrocema pubescens), Pueraria phaseoloides, Calopogonium muconoides dan jenis kacang-kacangan lain.
c. Daun-daunan
Daun nangka, daun pisang, daun turi, daun petai cina dll.
2) Jerami dan hijauan kering
Termasuk kedalam kelompok ini adalah semua jenis jerami dan hijauan pakan ternak yang sudah dipotong dan dikeringkan. Kandungan serat kasarnya lebih dari 18% (jerami, hay dan kulit biji kacang-kacangan).
3) Silase
Silase adalah hijauan pakan ternak yang disimpan dalam bentuk segar biasanya berasal dari tanaman sebangsa padi-padian dan rumput-rumputan.
4) Konsentrat (pakan penguat)
Contoh: dedak padi, jagung giling, bungkil kelapa, garam dan mineral.

MANFAAT PAKAN
1) Sumber energi
Termasuk dalam golongan ini adalah semua bahan pakan ternak yang kandungan protein kasarnya kurang dari 20%, dengan konsentrasi serat kasar di bawah 18%. Berdasarkan jenisnya, bahan pakan sumber energi dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:
a. Kelompok serealia/biji-bijian (jagung, gandum, sorgum)
b. Kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan)
c. Kelompok umbi (ketela rambat, ketela pohon dan hasil sampingannya)
d. Kelompok hijauan yang terdiri dari beberapa macam rumput (rumput
gajah, rumput benggala dan rumput setaria).
2) Sumber protein
Golongan bahan pakan ini meliputi semua bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein minimal 20% (berasal dari hewan/tanaman).
Golongan ini dibedakan menjadi 3 kelompok:
a. Kelompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian yang terdiri atas jenis daun-daunan sebagai hasil sampingan (daun nangka, daun pisang, daun ketela rambat, ganggang dan bungkil)
b. Kelompok hijauan yang sengaja ditanam, misalnya lamtoro, turi, kaliandra, gamal dan sentero
c. Kelompok bahan yang dihasilkan dari hewan (tepung ikan, tepung tulang
dan sebagainya).
3) Sumber vitamin dan mineral
Hampir semua bahan pakan ternak, baik yang berasal dari tanaman maupun
hewan, mengandung beberapa vitamin dan mineral dengan konsentrasi sangat bervariasi tergantung pada tingkat pemanenan, umur, pengolahan, penyimpanan, jenis dan bagian-bagiannya (biji, daun dan batang). Disamping itu beberapa perlakuan seperti pemanasan, oksidasi dan penyimpanan terhadap bahan pakan akan mempengaruhi konsentrasi kandungan vitamin dan mineralnya. Saat ini bahan-bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral sudah tersedia di pasaran bebas yang dikemas khusus dalam rupa bahan olahan yang siap digunakan sebagai campuran pakan, misalnya premix, kapur, Ca2PO4 dan beberapa mineral.

PEDOMAN TEKNIS PEMBUATAN/PENGOLAHAN
Kebutuhan Pakan

Kebutuhan ternak terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap
nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat bergantung pada jenis ternak, umur, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembaban nisbi udara) serta bobot badannya. Maka, setiap ekor ternak yang berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda pula.

Rekomendasi yang diberikan oleh Badan Penelitian Internasional (National Research Council) mengenai standardisasi kebutuhan ternak terhadap pakan
dinyatakan dengan angka-angka kebutuhan nutrisi ternak ruminansia. Rekomendasi tersebut dapat digunakan sebagai patokan untuk menentukan
kebutuhan nutrisi ternak ruminansia, yang akan dipenuhi oleh bahan-bahan
pakan yang sesuai/bahan-bahan pakan yang mudah diperoleh di lapangan.

Konsumsi Pakan
Ternak ruminansia yang normal (tidak dalam keadaan sakit/sedang berproduksi), mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok. Kemudian sejalan dengan pertumbuhan, perkembangan kondisi serta tingkat produksi yang dihasilkannya, konsumsi pakannya pun akan meningkat pula. Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (kondisi ternak itu sendiri).
a) Temperatur Lingkungan
Ternak ruminansia dalam kehidupannya menghendaki temperatur lingkungan yang sesuai dengan kehidupannya, baik dalam keadaan sedang berproduksi maupun tidak. Kondisi lingkungan tersebut sangat bervariasi dan erat kaitannya dengan kondisi ternak yang bersangkutan yang meliputi jenis ternak, umur, tingkat kegemukan, bobot badan, keadaan penutup tubuh (kulit, bulu), tingkat produksi dan tingkat kehilangan panas tubuhnya akibat
pengaruh lingkungan.

Apabila terjadi perubahan kondisi lingkungan hidupnya, maka akan terjadi pula perubahan konsumsi pakannya. Konsumsi pakan ternak biasanya menurun sejalan dengan kenaikan temperatur lingkungan. Makin tinggi temperatur lingkungan hidupnya, maka tubuh ternak akan terjadi kelebihan
panas, sehingga kebutuhan terhadap pakan akan turun. Sebaliknya, pada temperatur lingkungan yang lebih rendah, ternak akan membutuhkan pakan
karena ternak membutuhkan tambahan panas. Pengaturan panas tubuh dan
pembuangannya pada keadaan kelebihan panas dilakukan ternak dengan cara radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi.
b) Palatabilitas
Palatabilitas merupakan sifat performansi bahan-bahan pakan sebagai akibat
dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-bahan pakan yang dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan, bau, rasa (hambar, asin, manis, pahit), tekstur dan temperaturnya. Hal inilah yang menumbuhkan daya tarik dan merangsang ternak untuk mengkonsumsinya.
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan rasa manis dan hambar daripada asin/pahit. Mereka juga lebih menyukai rumput segar bertekstur baik dan mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih tinggi.
c) Selera
Selera sangat bersifat internal, tetapi erat kaitannya dengan keadaan “lapar”. Pada ternak ruminansia, selera merangsang pusat saraf (hyphotalamus) yang menstimulasi keadaan lapar. Ternak akan berusaha mengatasi kondisi ini dengan cara mengkonsumsi pakan. Dalam hal ini, kadang-kadang terjadi kelebihan konsumsi (overat) yang membahayakan ternak itu sendiri.
d) Status fisiologi
Status fisiologi ternak ruminansia seperti umur, jenis kelamin, kondisi tubuh
(misalnya bunting atau dalam keadaan sakit) sangat mempengaruhi konsumsi pakannya.
e) Konsentrasi Nutrisi
Konsentrasi nutrisi yang sangat berpengaruh terhadap konsumsi pakan adalah konsentrasi energi yang terkandung di dalam pakan. Konsentrasi energi pakan ini berbanding terbalik dengan tingkat konsumsinya. Makin tinggi konsentrasi energi di dalam pakan, maka jumlah konsumsinya akan menurun. Sebaliknya, konsumsi pakan akan meningkat jika konsentrasi energi yang dikandung pakan rendah.
f) Bentuk Pakan
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan bentuk butiran (hijauan yang dibuat pellet atau dipotong) daripada hijauan yang diberikan seutuhnya. Hal ini berkaitan erat dengan ukuran partikel yang lebih mudah dikonsumsi dan dicerna. Oleh karena itu, rumput yang diberikan sebaiknya dipotong-potong
menjadi partikel yang lebih kecil dengan ukuran 3-5 cm.
g) Bobot Tubuh
Bobot tubuh ternak berbanding lurus dengan tingkat konsumsi pakannya.
Makin tinggi bobot tubuh, makin tinggi pula tingkat konsumsi terhadap pakan. Meskipun demikian, kita perlu mengetahui satuan keseragaman berat badan ternak yang sangat bervariasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengestimasi berat badannya, kemudian dikonversikan menjadi “berat badan metabolis” yang merupakan bobot tubuh ternak tersebut. Berat badan ternak dapat diketahui dengan alat timbang. Dalam praktek di lapangan, berat badan ternak dapat diukur dengan cara mengukur panjang badan dan lingkar dadanya. Kemudian berat badan diukur dengan menggunakan formula: Berat badan = Panjang badan (inci) x Lingkar Dada2 (inci) / 661
Berat badan metabolis (bobot tubuh) dapat dihitung dengan cara meningkatkan berat badan dengan nilai 0,75
Berat Badan Metabolis = (Berat Badan)0,75
h) Produksi
Ternak ruminansia, produksi dapat berupa pertambahan berat badan (ternak
potong), air susu (ternak perah), tenaga (ternak kerja) atau kulit dan bulu/wol. Makin tinggi produk yang dihasilkan, makin tinggi pula kebutuhannya terhadap pakan. Apabila jumlah pakan yang dikonsumsi (disediakan) lebih rendah daripada kebutuhannya, ternak akan kehilangan berat badannya (terutama selama masa puncak produksi) di samping performansi produksinya tidak optimal.

Kandungan Nutrisi Pakan Ternak

Setiap bahan pakan atau pakan ternak, baik yang sengaja kita berikan kepada ternak maupun yang diperolehnya sendiri, mengandung unsur-unsur nutrisi yang konsentrasinya sangat bervariasi, tergantung pada jenis, macam dan keadaan bahan pakan tersebut yang secara kompak akan mempengaruhi tekstur dan strukturnya. Unsur nutrisi yang terkandung di dalam bahan pakan secara umum terdiri atas air, mineral, protein, lemak, karbohidrat dan vitamin. Setelah dikonsumsi oleh ternak, setiap unsur nutrisi berperan sesuai dengan fungsinya terhadap tubuh ternak untuk mempertahankan hidup dan berproduksi secara normal. Unsur-unsur nutrisi tersebut dapat diketahui melalui proses analisis terhadap bahan pakan yang dilakukan di laboratorium. Analisis itu dikenal dengan istilah “analisis proksimat”.

7. DAFTAR PUSTAKA
1) Kartadisastra, H.R. (1997). Penyediaan & Pengelolaan Pakan ternak
Ruminansia (Sapi, Kerbau, Domba, Kambing). Yogyakarta, Kanisius
2) Budi Pratomo (1986). Cara Menyusun ransum ternak. Poultri Indonesia.
3) Suara Karya, 3 Maret 1992. Mengenal Pakan Ternak Jenis Unggul.
4) Neraca, 6 Juni 1991. Jenis Pakan Yang Cocok Untuk Ternak.
5) Suara Karya, 19 Januari 1993. Memanfaatkan Sisa Pakan.
6) Suara Karya, 2 Juni 1992. Silase, Pakan Ternak Musim Kemarau.
TTG BUDIDAYA PERIKANAN
7) Neraca, 1 Juli 1991. Pemgolahan Jerami Menjadi Pakan Yang Disukai
ternak.
8) Pikiran Rakyat, 21 Mei 1990. Perlakuan Khusus Terhadap Biji-bijian Bahan
Pakan Ternak.
9) Neraca, 20 juli 1990. Pembuatan Hijauan Makanan Ternak.
10) Suara Karya, 15 September 1992. Cara Menanam Rumput Gajah.
11) Kedaulatan Rakyat, 21 Juni 1990. Prospek Industri Makanan



PAKAN KAMBING

0
[postlink]https://sumaterafarm.blogspot.com/2009/04/berharap-kemakmuran-dari-kambing-boer.html[/postlink]

Berharap Kemakmuran dari Kambing Boer


NAMA kambing boer masih terdengar asing di telinga sebagian besar masyarakat
Indonesia. Lain halnya dengan kambing jawa (kacangan), ettawah, maupun peranakan ettawah (PE) yang sudah cukup memasyarakat. Padahal kambing boer merupakan salah satu kambing pedaging terbaik di dunia.

Kambing ini memang bukan termasuk plasma nuftah asli
Indonesia. Ia berasal dari Afrika Selatan, namun sudah masuk ke Indonesia sejak 65 tahun lalu.
Kehadirannya di negeri ini masih dipandang sebelah mata, padahal laju pertumbuhan badannya jauh lebih cepat daripada jenis-jenis kambing lainnya.

Bayangkan saja, ketika dewasa (2-3 tahun), bobot badan kambing jantan bisa mencapai 120 kg. Sedangkan bobot badan betina pada umur yang sama mencapai 80-90 kg. Bandingkan dengan bobot badan kambing lokal yang hanya 20-30 kg. Bukan hanya itu, persentase karkasnya juga sangat tinggi. Karkas adalah bagian dari tubuh kambing yang bisa dikonsumsi manusia. Tidak heran jika boer disebut sebagai kambing pedaging terbaik di dunia.


Pada umur 5-6 bulan, bobot badannya sekitar 35-45 kg/ekor, dengan karkas sekitar 40-50 persen. Variasi ini tergantung dari konsumsi susu di masa anakan serta ransum pakan sehari-hari. Laju pertumbuhan berat badan tercatat 20-40 gram / hari. Kambing boer bertubuh panjang dan lebar, dengan keempat kaki sangat pendek. Warna kulitnya cokelat, yang melindungi dirinya akibat sengatan matahari langsung. Pasalnya kambing ini memiliki hobi berjemur di siang hari.
Sedangkan warna bulu tubuhnya putih. Bagian kepalanya berwarna cokelat kemerahan, cokelat muda atau cokelat tua. Kambing boer memiliki kepala berhidung cembung, serta telinga panjang yang menggantung.


Jantan dan Betina

Baik jantan maupun betina sama-sama memiliki tanduk. Kambing jantan memiliki tubuh kuat serta kokoh, dengan pundak yang meluas ke belakang, serta memiliki pantat yang berotot. Pada umur 2-3 tahun, bobot badan kambing jantan bisa mencapai 120 kg.


Kambing jantan dapat melakukan perkawinan sepanjang tahun. Saat birahi, tubuhnya akan mengeluarkan bau tajam untuk memikat betina. Seekor pejantan mulai aktif kawin pada umur 7-8 bulan, di mana aktivitas seksual ini bisa dipertahankannya hingga umur 7-8 tahun.


Kambing betina memiliki sifat sangat feminin, jinak, dan tidak banyak. Pertumbuhan badannya tidak jauh berbeda dari pejantan. Pada umur 2-3 tahun, bobot badannya mencapai 80-90 kg.


Tapi sejak umur 10-12 bulan, kambing betina sudah bisa dikawinkan. Masa birahinya berbeda dari jantan. Ia tak mengeluarkan bau tajam, namun aktif menggerak-gerakkan ekornya dengan cepat (biasa disebut flagging). Kambing betina ini dapat dijadikan induk selama 5-8 tahun.

Setelah kawin, betina akan bunting selama
lima bulan, lantas melahirkan 2-4 ekor anak. Tiga bulan setelah melahiran, Induk betina bisa dikawinkan lagi. Biasanya induk betina bisa melahirkan sebanyak tiga kali dalam dua tahun.

Pemeliharaan Mudah

Pemeliharaan kambing boer relatif mudah, dan tidak jauh berbeda dari pemeliharaan kambing kacangan, ettawah, maupun PE. Bahkan, kambing boer dapat dilatih atau dituntun dengan bantuan tali. Jika agresif, kita bisa segera mengendalikannya dengan memegang tanduknya.

Kambing ini juga mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Daya tahan tubuhnya sangat baik, bahkan sanggup bertahan pada suhu sangat ekstrem. Mulai dari suhu sangat dingin (-25 oC) hingga suhu panas (43 oC).

Kemampuan adaptasi ini sungguh menakjubkan, dan tidak dimiliki jenis-jenis kambing lainnya. Karena itu, di alam bebas, kambing boer dapat hidup di berbagai ekosistem. Mulai dari semak belukar, lereng gunung yang berbatu,
padang rumput, dan tentu saja ketika dikandangkan secara intensif.

Kalau Anda ingin membudidayakan kambing boer, usahakan mencari bibit dengan galur murni. Mintalah informasi dari Dinas Peternakan terdekat. Soalnya, selama 65 tahun berada di
Indonesia, banyak kambing boer hasil persilangan dengan jenis lain.


Keturunan pertama (F1) dari hasil persilangan ini akan mewarisi 50 persen sifat genetik kambing Boer. Itu pun sudah menunjukkan performa lebih baik daripada kambing lokal.


Pemeliharaan kambing boer diyakini bisa memakmurkan peternak. Artinya, peternakan tidak lagi dipandang sebagai usaha sampingan, namun bisa dijadikan sandaran nafkah bagi peternak beserta anggota keluarganya. (Lisna Nurrohmawati, mahasiswi Fakultas Kedokteran Hewan UGM-32)

Berharap Kemakmuran dari Kambing Boer