Berharap Kemakmuran dari Kambing Boer

[postlink]http://sumaterafarm.blogspot.com/2009/04/berharap-kemakmuran-dari-kambing-boer.html[/postlink]

Berharap Kemakmuran dari Kambing Boer


NAMA kambing boer masih terdengar asing di telinga sebagian besar masyarakat
Indonesia. Lain halnya dengan kambing jawa (kacangan), ettawah, maupun peranakan ettawah (PE) yang sudah cukup memasyarakat. Padahal kambing boer merupakan salah satu kambing pedaging terbaik di dunia.

Kambing ini memang bukan termasuk plasma nuftah asli
Indonesia. Ia berasal dari Afrika Selatan, namun sudah masuk ke Indonesia sejak 65 tahun lalu.
Kehadirannya di negeri ini masih dipandang sebelah mata, padahal laju pertumbuhan badannya jauh lebih cepat daripada jenis-jenis kambing lainnya.

Bayangkan saja, ketika dewasa (2-3 tahun), bobot badan kambing jantan bisa mencapai 120 kg. Sedangkan bobot badan betina pada umur yang sama mencapai 80-90 kg. Bandingkan dengan bobot badan kambing lokal yang hanya 20-30 kg. Bukan hanya itu, persentase karkasnya juga sangat tinggi. Karkas adalah bagian dari tubuh kambing yang bisa dikonsumsi manusia. Tidak heran jika boer disebut sebagai kambing pedaging terbaik di dunia.


Pada umur 5-6 bulan, bobot badannya sekitar 35-45 kg/ekor, dengan karkas sekitar 40-50 persen. Variasi ini tergantung dari konsumsi susu di masa anakan serta ransum pakan sehari-hari. Laju pertumbuhan berat badan tercatat 20-40 gram / hari. Kambing boer bertubuh panjang dan lebar, dengan keempat kaki sangat pendek. Warna kulitnya cokelat, yang melindungi dirinya akibat sengatan matahari langsung. Pasalnya kambing ini memiliki hobi berjemur di siang hari.
Sedangkan warna bulu tubuhnya putih. Bagian kepalanya berwarna cokelat kemerahan, cokelat muda atau cokelat tua. Kambing boer memiliki kepala berhidung cembung, serta telinga panjang yang menggantung.


Jantan dan Betina

Baik jantan maupun betina sama-sama memiliki tanduk. Kambing jantan memiliki tubuh kuat serta kokoh, dengan pundak yang meluas ke belakang, serta memiliki pantat yang berotot. Pada umur 2-3 tahun, bobot badan kambing jantan bisa mencapai 120 kg.


Kambing jantan dapat melakukan perkawinan sepanjang tahun. Saat birahi, tubuhnya akan mengeluarkan bau tajam untuk memikat betina. Seekor pejantan mulai aktif kawin pada umur 7-8 bulan, di mana aktivitas seksual ini bisa dipertahankannya hingga umur 7-8 tahun.


Kambing betina memiliki sifat sangat feminin, jinak, dan tidak banyak. Pertumbuhan badannya tidak jauh berbeda dari pejantan. Pada umur 2-3 tahun, bobot badannya mencapai 80-90 kg.


Tapi sejak umur 10-12 bulan, kambing betina sudah bisa dikawinkan. Masa birahinya berbeda dari jantan. Ia tak mengeluarkan bau tajam, namun aktif menggerak-gerakkan ekornya dengan cepat (biasa disebut flagging). Kambing betina ini dapat dijadikan induk selama 5-8 tahun.

Setelah kawin, betina akan bunting selama
lima bulan, lantas melahirkan 2-4 ekor anak. Tiga bulan setelah melahiran, Induk betina bisa dikawinkan lagi. Biasanya induk betina bisa melahirkan sebanyak tiga kali dalam dua tahun.

Pemeliharaan Mudah

Pemeliharaan kambing boer relatif mudah, dan tidak jauh berbeda dari pemeliharaan kambing kacangan, ettawah, maupun PE. Bahkan, kambing boer dapat dilatih atau dituntun dengan bantuan tali. Jika agresif, kita bisa segera mengendalikannya dengan memegang tanduknya.

Kambing ini juga mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Daya tahan tubuhnya sangat baik, bahkan sanggup bertahan pada suhu sangat ekstrem. Mulai dari suhu sangat dingin (-25 oC) hingga suhu panas (43 oC).

Kemampuan adaptasi ini sungguh menakjubkan, dan tidak dimiliki jenis-jenis kambing lainnya. Karena itu, di alam bebas, kambing boer dapat hidup di berbagai ekosistem. Mulai dari semak belukar, lereng gunung yang berbatu,
padang rumput, dan tentu saja ketika dikandangkan secara intensif.

Kalau Anda ingin membudidayakan kambing boer, usahakan mencari bibit dengan galur murni. Mintalah informasi dari Dinas Peternakan terdekat. Soalnya, selama 65 tahun berada di
Indonesia, banyak kambing boer hasil persilangan dengan jenis lain.


Keturunan pertama (F1) dari hasil persilangan ini akan mewarisi 50 persen sifat genetik kambing Boer. Itu pun sudah menunjukkan performa lebih baik daripada kambing lokal.


Pemeliharaan kambing boer diyakini bisa memakmurkan peternak. Artinya, peternakan tidak lagi dipandang sebagai usaha sampingan, namun bisa dijadikan sandaran nafkah bagi peternak beserta anggota keluarganya. (Lisna Nurrohmawati, mahasiswi Fakultas Kedokteran Hewan UGM-32)

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan hubungi Kami :