LIMBAH BUAH KAKAO, LIMBAH YANG BERMANFAAT

[postlink]http://sumaterafarm.blogspot.com/2009/04/limbah-buah-kakao-limbah-yang.html[/postlink]

Hasil penelitian Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (PPKK) Jember menunjukkan bahwa limbah kakao (kulit dan plasenta) mengandung serat, protein, lemak serta sejumlah asam organik dan berpotensi menjadi bahan pakan ternak kambing. Penelitian ini juga mendukung program integrasi tanaman perkebunan dengan ternak yang secara luas sudah terbukti mampu meningkatkan kesehatan dan produktivitas tanaman serta meningkatkan pendapatan pekebun.

Para pekebun yang berada di wilayah sentra produksi kakao seperti Sulawesi khususnya Sulawesi Tengah dapat memanfaatkan olahan limbah kakao sebagai bahan alternatif pakan ternak. Biasanya limbah kakao yang banyak pada puncak produksi kakao selama bulan Maret, April dan Mei tidak dimanfaatkan secara baik dan dibiarkan begitu saja menjadi onggokan sampah.

Proporsi untuk membuat olahan pakan yang terdiri atas limbah kakao dengan biji (basah) adalah 65% : 35%. Jika produktivitas biji kakao per tahun per hektar untuk varietas Landak mencapai 1000 – 1250 kg, maka limbah yang dihasilkan cukup untuk memelihara 4-5 ekor kambing dengan asumsi kebutuhan pakan kambing 2 kg/ekor/hari tanpa diberi makanan tambahan. Bila pekebun memelihara ternak kambing dengan memanfaatkan limbah kakao sebagai sumber pakannya, maka disamping dapat dijadikan sebagai sumber pupuk organik, juga merupakan investasi yang sangat berarti bagi para pekebun.

Pemberian hasil olahan limbah kakao sebagai pakan kambing mampu mengurangi porsi pemberian rumput yang harus disediakan peternak, khususnya pada usaha pola intensif (dikandangkan). Hasil pengamatan usaha pola integrasi tanaman perkebunan dengan ternak di Propinsi Lampung menunjukkan, bahwa olahan limbah kakao yang diberikan peternak sebagai pakan kambing mencapai 2-3 kg/ekor/hari pada ternak dewasa. Ini cukup membantu peternak dalam mensuplai pakan kambing yang dinyatakan mampu menghemat tenaga kerja penyedia pakan hijauan mencapai 50%. Teknologi ini juga mendukung program integrasi yang secara luas sudah terbukti mampu meningkatkan kesehatan dan produktivitas tanaman serta meningkatkan pendapatan pekebun.

Disamping itu pemanfaatan limbah menjadi bahan baku bagi proses produksi berikutnya merupakan upaya memperpanjang rantai nutrisi dan energi yang dalam konteks ekologi merupakan tindakan efisiensi yang sangat bermanfaat terkait dengan sustainable agriculture.

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan hubungi Kami :